Tuesday, November 13, 2007

FOKUS KITA

Mendatangkan Kasih Karunia bagi Orang Lain

Ada kuasa yang dahsyat di dalam perkataan kita, para orang percaya. Kedahsyatan kuasa dalam perkataan yang kita ucapkan mampu membawa kehidupan sekaligus kematian (baca: kehancuran) bagi orang lain, tergantung pada apa yang kita ucapkan.

Jika bibir kita selalu mengucapkan perkataan yang baik dan positif, membangun dan memberi semangat, maka itu akan mendatangkan kasih karunia, yang membawa kehidupan dan kesembuhan bagi orang lain, seperti yang tertulis dalam Efesus 4:29: ”Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” Namun sebaliknya, jika kita selalu mengucapkan perkataan kotor dan negatif, penuh dengan penghakiman, sindiran, manipulasi, gosip, dusta, kemarahan, makian, kebencian, kritik yang tidak membangun, maka itu akan mendatangkan luka serta kematian bagi hidup orang lain.

Contoh: ketika orang tua banyak mengucapkan kata-kata negatif seperti ”Kamu bodoh, jelek, tidak berguna, tidak pernah berubah, dasar anak setan...bla bla bla”, maka ketika dewasa anak tersebut akan menjadi orang yang minder, tidak percaya diri, mudah tertolak, hidup dalam rasa bersalah yang tidak sehat, pahit hati, bahkan bisa menjadi jahat dan buruk seperti setan yang kita ucapkan. Namun, jika kita mengeluarkan kata-kata positif yang mengandung penghargaan, pengampunan, penerimaan, pemberian semangat, maka ketika dewasa seorang anak akan tumbuh menjadi orang baik seperti yang kita ucapkan.

Bagaimana kita bisa mengucapkan perkataan yang mendatangkan kasih karunia untuk orang lain dan bukannya kehancuran?

1. Menjaga hati dengan segala kewaspadaan

Amsal 4:23 berkata bahwa kehidupan memancar dari hati. Maka, sangatlah penting bagi kita untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan, sebab apa yang diucapkan mulut, meluap dari hati (Lukas 6:45).

Apa isi hati kita? Iri hati, benci, dengki, marah, dendam, kecewa, kepahitan, kuatir, jengkel? Jika hati kita dipenuhi oleh ”sampah” seperti hal-hal tersebut, berarti hati kita sedang dipenuhi oleh kasih eros, kasih yang menuntut, dan bukannya agape, sehingga ketika menemui orang lain tidak berlaku sesuai dengan keinginan kita, kita mengucapkan perkataan yang mematikan. Mintalah kepada Tuhan untuk memulihkan dan menyucikan hati kita dari ”sampah”, bereskan konflik yang terpendam di hati terhadap sesama (jika ada) dan biarkan kasih agape Allah memenuhi hati kita.

2. Mengucapkan perkataan yang baik untuk membangun tepat pada waktunya

Jika orang yang dipenuhi kasih eros selalu mengucapkan perkataan yang mematikan untuk membuat orang lain ikut merasakan penderitaan akibat keinginannya yang tidak terpenuhi, maka orang yang dipenuhi kasih agape akan mengucapkan perkataan yang baik untuk membangun hidup orang lain. Ia berfokus pada pertumbuhan dan keberhasilan orang lain, bukan keberhasilannya sendiri saja.

Orang yang dipenuhi kasih agape mampu mengendalikan mulutnya. Ia bersedia berkorban dan menderita bagi orang lain, sehingga ia sabar mendengarkan orang lain dengan penuh empati. Orang yang dipenuhi kasih agape tahu benar bahwa orang lain akan bersukacita atas jawaban dan perkataan yang diberikan tepat pada waktunya (Amsal 15:23). Ia tidak membicarakan hal yang basa-basi (tidak perlu) agar terlihat baik dan rohani, atau mematikan, tetapi berhikmat dan berakal budi (Amsal 10:19) untuk menolong orang lain mengalami kasih karunia Tuhan melalui perkataannya.

Adakah orang lain memperoleh kasih karunia melalui perkataan kita? Ataukah justru membutuhkan kasih karunia untuk mendengar perkataan kita?(l@)

No comments: