Saturday, November 14, 2009

Menemukan Kemurahan Tuhan Dalam HadiratNya

FOKUS KITA


Pilih salah satu: Sang Raja atau Kerajaannya? Istana atau HadiratNya?

Dalam penyamarannya karena statusnya sebagai orang yang sangat termasyhur, Raja Salomo jatuh cinta pada seorang gembala tak bernama yang dijuluki “gadis Sulam”. Beberapa puisi paling romantis pernah tertulis dari pena orang yang paling bijaksana yang pernah hidup di dunia ini−ia menulis Kidung Agung tentang ketertarikannya yang tak terhingga pada gadis petani ini! Mengapa Salomo, seorang penguasa terkenal yang memiliki seribu istri menjadi begitu terkesan oleh seorang rakyat jelata yang miskin?

Alasannya sama dengan alasan Raja Ahasyweros yang jatuh cinta pada Ester. Bayangkan, bagaimana seorang gadis Yahudi di negeri buangan bisa memenangkan hati penguasa Persia yang berlimpah kekayaan? Apa yang dimilikinya atau apa yang dapat diberikan oleh seorang gadis yatim piatu yang miskin kepada raja yang memiliki segalanya… dan berhasil mendapatkan segala kemurahan raja? Ya, Ester memang cantik, tetapi ratusan bahkan ribuan pesaingnyapun tak kalah cantik parasnya, bahkan banyak dari mereka adalah putri-putri pejabat atau berasal dari kalangan bangsawan yang ‘terhormat’. Apa yang membuat Ester menonjol diantara sekian banyak gadis cantik lainnya sehingga raja berkenan kepadanya, melimpahinya kasih sayang, mengenakan mahkota ratu ke kepalanya serta mengabulkan segala permintaannya? Bagaimanapun, dengan cara tertentu Tuhan telah menandai dan menetapkan Ester sehingga ia menonjol dari antara semua perempuan cantik yang ada dalam harem Persia yang maha luas itu. Tuhan mempersiapkan dan memperlengkapi Ester untuk melembutkan dan memenangkan hati diktator terkuat dalam jamannya.

Mungkin kedua penguasa ini terpesona bahwa seorang gadis muda yang cantik jatuh cinta pada dirinya, bukan pada kuasa, kekayaan dan otoritasnya sebagai raja besar. Banyaknya musuh dalam selimut dan upaya-upaya busuk yang dirancangkan atas seorang raja telah membuat para penguasa kehilangan kepercayaan bahwa orang dapat atau akan mencintai mereka untuk sesuatu hal yang lain−pribadinya, bukan demi keuntungan pribadi dan kenaikan pangkat. Walaupun Ester akhirnya juga memperoleh kedudukan, kekayaan dan kuasa karena menikah dengan raja, namun kualitas hatinyalah yang membawanya menjadi kesayangan di hati raja. Inilah yang menggerakkan sang Raja untuk memberikan segala kemurahan yang diminta Ester… karena raja mengasihinya. Untuk memikat orang seperti raja Ahasyweros dibutuhkan lebih dari sekedar kecantikan lahiriah. Ia bisa saja menjadikan Ester salah satu selirnya, namun ada sesuatu dalam diri Ester yang membuatnya mau memberikan komitmennya.

Alkitab mencatat bahwa Ester menuruti saran Hegai−sida-sida yang mengenal pribadi raja Ahasyweros, sifatnya, kebutuhannya, apa yang disukainya dan yang yang tidak disukainya, keinginan dan harapannya−untuk tidak meminta apapun selain yang dianjurkan Hegai. Sebagai sida-sida yang mengenal hati raja, tentu Hegai mengarahkan Ester untuk memusatkan perhatiannya kepada sang raja, hatinya dan kehendaknya, bukan keinginan pribadi Ester. Inilah yang membuat Ester berbeda dari para pesaingnya sehingga mendapatkan hati raja sepenuhnya.

Meskipun kita tidak akan pernah menyebut Tuhan sebagai pribadi yang suka meragukan kebenaran tentang pernyataan atau sikap kita penyembahNya, namun melalui kisah Ester kita dapat mengetahui bahwa Tuhan merindukan lebih banyak penyembahNya yang, seperti Ester, berfokus pada kehendak Raja daripada berkat sang Raja. Tuhan rindu setiap kita lebih mencintai Dia sang Pemberi daripada pemberianNya. Apalagi, Tuhan telah jatuh cinta kepada kita, mengasihi kita terlebih dulu. Tanpa kita minta pun, adalah kerinduanNya untuk memberkati dan memenuhi segala kebutuhan kita. Kalau begitu, mengapa kita masih saja sering egois… datang kepadaNya, merayu dan memaksaNya memenuhi semua keinginan kita, tanpa mempedulikan apa yang menjadi isi hati dan kehendakNya? Kita tidak menuruti tuntunan Roh Kudus (Hegai kita) yang mengenal Raja kita?

Kemurahan yang sejati mengalir keluar dari hati Sang Raja karena kasih sayangNya kepada penyembahNya. Janganlah kita buru-buru bangga jika Tuhan memenuhi keinginan kita yang egosentris karena kita memaksaNya. Justru harusnya kita malu bersikap sebagai “pengemis rohani” seperti itu. Mari cintai Raja kita, haus dan lapar akan hadiratNya setiap waktu. Istana dan kerajaan (berkat) akan mengikuti kita.(l@)

Referensi: “Ester”, karya Charles Swindoll, “Hadassah” & “Finding Favor with the King” karya Tommy Tenney

No comments: