Saturday, May 30, 2009

KEKELUARGAAN TUBUH KRISTUS

FOKUS KITA


Setiap orang yang memiliki keluarga, pasti merindukan keluarga yang harmonis dan bahagia. Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang memiliki serta menerapkan nilai-nilai yang kuat untuk menjaga keharmonisan keluarganya.

Seorang bayi yang baru lahir pasti sangat memerlukan keluarga untuk mengasuhnya supaya bertumbuh. Untuk itu, bayi tersebut harus tinggal dan hidup bersama serta menerapkan nilai-nilai yang ada di keluarga tersebut.

Demikian pula kita, jemaat gereja, adalah seumpama bayi-bayi yang perlu terus bertumbuh di dalam komunitas gereja lokal (tempat kita beribadah), yang merupakan keluarga rohani kita, bukan orang asing. Efesus 2:19 mengatakan: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.”

Sebuah keluarga Allah tidak mementingkan diri sendiri. Ketika ada seseorang yang merasa giginya sedang sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan sakit. Sebab sistem saraf yang ada dalam tubuh manusia saling berkaitan. Jika ada yang berkekurangan, maka yang lain akan membantu. Keluarga Allah harus saling memperhatikan. Jika ada satu anggota yang tidak pernah lagi datang ke gereja, maka yang lain mulai menanyakan atau menghubungi bahkan mengunjungi orang tersebut. Dalam sebuah keluarga Allah, ego manusia harus dihancurkan. Sudah saatnya kita memiliki cara pikir yang benar, bahwa kita tidak boleh mementingkan diri sendiri.

Keluarga Allah harus mempunyai komunikasi yang baik. Seperti halnya keluarga di dunia banyak hancur karena tidak memiliki komunikasi yang baik, demikian pula kehidupan di gereja juga dapat hancur karena kurangnya komunikasi. Komunikasi yang baik di dalam gereja adalah komunikasi yang menyeluruh dengan seluruh anggotanya, baik tua-muda, pelajar atau pekerja. Kita tidak hanya berkomunikasi dengan orang-orang tertentu saja, misal hanya dengan anggota komsel, sesama profesi atau pelayanan saja. Komunikasi harus terjadi kepada semua usia, semua jenis pelayanan dan status, karena kita adalah satu keluarga. Tidak ada “Gangster” di gereja dan tidak ada Club pemuji, Club pendoa, Club usher yang berdiri sendiri.

Keluarga Allah saling membangun. Suasana yang disenangi setiap orang pada umunya adalah suasana antusias atau semangat. Antusias atau semangat tidak dapat terjadi tanpa adanya saling membangun atau saling menguatkan di antara anggota. Salah satu perpecahan gereja dikarenakan adanya anggota jemaat yang saling menjatuhkan satu dengan yang lain. Bisa saja awalnya hanyalah masalah sepele saja. Tetapi, ingat “api yang kecil dapat membakar seluruh hutan”. Berawal dari sebuah kebiasaan bercanda dapat menjadi masalah yang serius, yaitu persaingan dan pertengkaran. Semakin banyak kata-kata yang membangun semakin baik. Jika ada yang letih lesu dan berbeban berat, maka yang lain menguatkan dengan kasih. Jika ada kesalahpahaman, segera selesaikan dan jangan sampai ada perselisihan. Jangan ada suasana persaingan dalam gereja, sebab persaingan adalah awal dari kehancuran.

Keluarga Allah harus saling melengkapi. 1 Korintus 12:18 menjelaskan fungsi kita sebagai tubuh Kristus yang berbeda-beda, tetapi saling membutuhkan, mendukung dan memperlengkapi. Semua harus berjalan bersama-sama dan tidak bisa berjalan masing-masing. Jika kita pergi bersama, maka pulang juga harus bersama. Inilah kekuatan sebuah keluarga Allah. Kegagalan 1 orang menjadi kegagalan semua orang. Oleh karena itu, kita harus saling menutupi kelemahan-kelemahan anggota yang lain. Biarlah yang kuat menanggung yang lemah. (you)

No comments: