Saturday, May 2, 2009

Membangun Disiplin Diri

FOKUS KITA


Banyak orang ternyata kurang memiliki disiplin diri, sehingga mereka tidak mengalami hidup yang maksimal dan diberkati.

Apa itu disiplin diri? Disiplin diri adalah kemampuan untuk membuat diri sendiri dapat mengambil tindakan tanpa terpengaruh kondisi emosi. Bayangkan, apa yang bisa kita capai dengan cara mengikuti hal-hal sederhana yang memang seharusnya kita lakukan. Misalnya: tubuh kita kelebihan berat badan 20 kilogram dan ingin menurunkannya. Tanpa disiplin diri hal ini tak akan pernah tercapai. Sebaliknya, dengan disiplin diri yang cukup, hal itu pasti terlaksana. Puncak dari disiplin diri adalah saat kita dapat membuat sebuah keputusan secara sadar, dan selanjutnya keputusan itu mendorong kita untuk mengikutinya. Jika setiap orang memiliki disiplin diri, maka segala masalah ketidak-maksimalan, kekacauan, sikap acuh dan penundaan akan teratasi. Disiplin diri akan memacu setiap orang yang memilikinya untuk bertumbuh maksimal dalam hidupnya.

Membangun disiplin diri
Membangun atau melatih disiplin diri ibarat melatih otot. Semakin banyak/sering kita melatih otot, maka semakin kuatlah otot kita. Semakin jarang kita melatih otot, maka semakin lemahlah kita. Cara membangun disiplin diri bisa di-analogi-kan dengan cara pelatihan untuk membangun otot, artinya kita harus mulai mengangkat beban/melakukan latihan yang mencapai titik batas kekuatan kita. Kita harus memaksa otot kita sampai meregang, baru kemudian kita beristirahat.

Sama dengan metode di atas, kita membangun disiplin diri dengan mengalahkan tantangan yang hampir mencapai batas kekuatan kita. Ini bukan berarti kita mencoba sesuatu yang membuat kita jatuh setiap hari, tetapi hal itu juga berarti kita harus keluar dari zona kenyamanan kita. Kita tidak akan bertambah kuat dengan hanya mengangkat sesuatu yang terlalu berat atau terlalu ringan. Kita harus memulai dengan menyeimbangkan antara berat/tantangan yang masih ada dalam batas kekuatan kita, tetapi juga hampir mencapai batas kekuatan kita. Pelatihan ini disebut pelatihan gradual (progressive training), begitu kita sudah bisa mencapai suatu tahap tertentu, kita harus meningkatkan tantangan. Jika kita tetap mempertahankan berat yang sama, kita tidak akan menjadi lebih kuat. Demikian juga jika kita gagal menyelesaikan setiap tahap, kita juga tidak akan pernah membangun disiplin diri.

Membangun disiplin diri memerlukan proses latihal yang terus menerus, tidak dapat terjadi dalam waktu semalam saja. Tetapi, jika kita tidak pernah memulai proses itu, kita akan tetap berada di tingkat disiplin diri yang rendah.

Dahulu, saya malas bersaat teduh, tidak pernah saat teduh secara teratur. Padahal saya sudah tahu betapa pentingnya saat teduh bagi pertumbuhan rohani dan iman saya. Akhirnya saya mulai mencoba membangun disiplin saat teduh dengan belajar disiplin doa. Minimal ada 5 kali waktu saya berdoa, doa makan 3x ditambah doa sebelum tidur dan doa setelah bangun. Setelah saya rajin dan tidak pernah absen dalam doa. Kemudian saya tambah dengan mulai membaca renungan harian setiap hari. Jadi sekarang ada doa dan membaca renungan setiap hari. Disiplin doa sudah oke, tetapi membaca renungan setiap hari masih sering bolong. Saya pun mulai memaksa diri supaya setiap hari harus ada waktu/kesempatan untuk membaca renungan harian. Entah itu pagi atau siang atau sore atau malam. Akhirnya membaca renungan berhasil menjadi suatu disiplin yang rutin saya lakukan setiap hari. Kemudian saya diingatkan oleh mentor saya, bahwa waktu yang terbaik untuk saat teduh adalah di pagi hari (Mazmur 5:5; Markus 1:35). Maka saya mulai memaksa diri untuk bangun pagi dan bersaat teduh di pagi hari. Wah, disiplin yang satu ini sangat-sangat berat. Butuh waktu 3 bulan lebih untuk bisa berhasil bangun pagi (jam 5.30 pagi) dna bersaat teduh. Akhirnya saya berhasil dalam disiplin diri ini, bangun pagi jam 5.30 dan mendedikasikan waktu untuk bersaat teduh (berdoa dan merenungkan Firman Tuhan). Dalam School of Prayer, kita diajar untuk BBM (berdoa, berpuasa dan merenungkan Firman Tuhan). Berarti disiplin diri harus ditambah lagi: berpuasa paling tidak 2x seminggu bagi pemimpin dan 1x seminggu untuk jemaat. Dari semuanya itu, inilah puncak dari tantangan saya: berpuasa. Saya membangun disiplin diri dalam berpuasa membutuhan waktu selama 6 bulan. Akhirnya setelah melewati pelatihan-pelatihan dalam disiplin disi bersaat teduh, saya berhasil mejadikan diri saya memiliki disiplin diri dalam berdoa, berpuasa dan merenungkan Firman.

Hal yang terakhir dan hal yang terpenting dalam membangun disiplin diri adalah bahwa kita harus selalu libatkan Roh Kudus. Hanya dialah yang bisa memberikan “dunamos” (kekuatan yang mendobrak) bagi kita untuk bisa masuk dalam latihan disiplin diri.(jas)

No comments: