Sunday, May 17, 2009

Jawaban yang Dicari Dunia: Kasih yang Nyata

FOKUS KITA

“Pergilah, Jadikanlah semua bangsa muridku….”

Menjadikan semua bangsa murid, menginjil, mengabarkan berita keselamatan. Hampir semua orang percaya sudah paham dengan Amanat Agung ini. Tapi pada prakteknya, selalu saja ada dalih untuk tidak melakukannya.

Visi dari Tuhan, Kembali ke Jiwa-Jiwa
Tidak ada kompromi untuk amanat agung. Itu bukan pilihan, melainkan perintah. Dan di mana pun kita telah ditempatkan oleh Tuhan, semuanya pasti kembali untuk kepentingan jiwa-jiwa. Pada dasarnya, amanat agung juga bukanlah suatu beban atau sekedar tanggung jawab sebagai orang Kristen apabila kita memang hidup dalam kasihNya. Karena jika kita hidup erat dengan kasihNya, kita pasti juga memiliki kerinduan serupa untuk mengasihi jiwa-jiwa seperti hati Tuhan sendiri.

Menjawab Kebutuhan lewat Kasih yang Nyata
Pada akhirnya, perbuatan berbicara lebih tajam dibandingkan perkataan yang keluar dari mulut. Bagaimana kita bisa berbicara tentang kasih Tuhan apabila kita membiarkan anak di depan kita yang sedang kelaparan karena belum makan seharian? Tapi dengan mengorbankan ‘jatah’ nasi kita kepada anak itu, tanpa perlu bicara panjang lebar, dia akan bertanya ,”Mengapa sih Anda mau berkorban demi saya?” Di situlah kita bisa berbicara tentang kasih nyata yang bersumber dari Tuhan Yesus sendiri.

Bagi Hidup, Banyak Harga yang Harus Dibayar
Bagi Hidup. Menjalankannya memang tidak semudah mengatakannya. Banyak harga yang harus dibayar. Tenaga, waktu, uang, dan yang pasti, prioritas utama bukan lagi kepentingan kita, melainkan kepentingan orang lain.
Pernah suatu kali saya menemani seorang anak yang kecelakaan di rumah sakit. Karena tidak memiliki cukup biaya, ia masuk di bangsal yang paling jelek, penuh dengan orang-orang terkapar di lantai-lantai. Sempat saya berpikir, “Ini mau mengantar orang sakit, bisa-bisa yang sehat juga ikutan sakit.” Tapi kemudian pemikiran itu hilang saat saya menyadari bahwa Tuhan saya bukan Tuhan yang setengah-setengah dalam menjawab kebutuhan jiwa-jiwa.
Seringkali orang berpikir ,”Saya sendiri masih kekurangan, bagaimana bisa bagi hidup? Nanti saja, tunggu waktu saya sudah berkecukupan.” Tidak demikian. Bagi hidup dapat dimulai dari sekarang, lewat apa yang kita miliki saat ini. Melihat anak-anak kesulitan biaya sekolah meski biaya hidup kita sendiri pas-pasan? Kita bisa menjual barang-barang maupun koran bekas untuk biaya tersebut. Intinya, kita bisa memulai berbagi hidup kapan pun, asalkan ada kemauan.

Setia menjalankan visi Tuhan
Saat kita setia menjalankan visi yang diberikan Tuhan tersebut, perlahan Tuhan akan bukakan jalan dan kesempatan yang lebih besar untuk memberkati lebih banyak orang lagi. Ketika dulu Tuhan memberikan kepada saya beban terhadap sebuah sekolah di kawasan Surabaya timur, awalnya saya hanya seorang diri berdoa keliling. Lalu Tuhan perlahan mempertemukan saya dengan beberapa orang yang membantu akses masuk ke sekolah itu agar dapat menjawab kebutuhan mereka secara langsung. Di situlah, saya dapat lebih leluasa mengenalkan kasih Tuhan kepada siswa-siswa di SMA tersebut. Selanjutnya, saya juga tidak bergerak sendiri lagi, melainkan bersama-sama pelajar yang telah dimenangkan tersebut untuk memenangkan lebih banyak jiwa lagi.
Akhir kata, menjawab kebutuhan jiwa-jiwa bukanlah sebuah tanggung jawab kita sebagai orang percaya. Itu sudah menjadi Gaya Hidup kita. Miliki hubungan yang intim dengan Tuhan, peka terhadap kebutuhan di lingkungan Anda sehari-hari, dan jadilah Jawaban! (*vln)

*seperti yang dipaparkan Setyarini, Pengawas Area Teen, kepada penulis

No comments: