Saturday, May 29, 2010

I Am A Dreamer

FOKUS KITA



“Aku bermimpi kita mengikat berkas gandum, lalu berkas gandumku tegak berdiri dan berkas gandummu sekalian menyembah berkas gandumku itu. Aku bermimpi matahari, bulan, dan sebelas bintang menyembah kepadaku.”

Si Pemimpi…itulah julukan saudara-saudaranya untuk Yusuf. Julukan yang keluar dari hati yang penuh kedengkian. Si Pemimpi pun dijual ke Mesir dan menjadi budak disana. Bayangkanlah jurang yang terbentang antara mimpi dan kenyataan! Dia bermimpi menjadi penguasa, namun kenyataannya dia menjadi budak belian di tanah asing, terpisah jauh dari keluarganya. Bahkan dia mengalami menjadi tahanan. Mimpi yang sangat jauh dari kenyataan.

Seperti itukah keadaan mimpi kita? Benar-benar bermimpi di siang bolong rasanya saat saya ingin memiliki sebuah sekolah yang profesional sementara saya tidak memiliki sedikitpun modal untuk mewujudkannya. Gaji seorang guru untuk membangun sebuah sekolah itu bak menggarami lautan. Bahkan saya sempat berpikir kalau Tuhan sedang bercanda dengan saya. Maksud saya: “Mana mungkin? Secara latar belakang pendidikan saja sudah tidak mumpuni. Secara ekonomi, keluarga saya bukanlah keluarga yang kaya raya. Dan secara keluarga, keluarga tidak begitu mendukung mimpi saya. God, You gotta be kidding!!”(Tuhan, Kau pasti bercanda).

Pemimpi ini tetap memegang mimpinya. Dia tidak kehilangan fokusnya ditengah-tengah segala kemustahilan yang dilihat dan dialaminya. Dia tetap berharap kepada Tuhan dan mengerjakan bagiannya dengan tekun. Karena dia menyadari bahwa mimpi itu berasal dari Tuhan.

Sekarang ini saya hanya berpegang pada apa kata Tuhan di hadapan raksasa kemustahilan. Yang saya percayai, bila Tuhan yang memberikan mimpi itu maka Dia PASTI akan memperlengkapi dan mencukupkan kebutuhan-kebutuhan saya. Seorang teman memberikan Filipi 4.19 kepada saya saat saya berbagi mimpi ini, dan ayat itu mendukung saya selama ini.

“Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu. Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorangpun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir."

Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah.


Si Pemimpi itu akhirnya melihat mimpinya menjadi kenyataan. Segala sesuatu yang telah terjadi padanya adalah persiapan-persiapan yang Tuhan lakukan agar dia siap saat mimpi itu menjadi kenyataan. Persiapan agar dia menjadi seorang pemimpin yang rendah hati dan bergantung hanya kepada Tuhan.

Dia telah lulus dari masa padang gurunnya dengan sikap hati yang benar. Dia mengerjakan tanggung jawabnya dengan sangat baik, sehingga sekalipun berada di dalam penjara Tuhan mempromosikan dia. Dia telah membuktikan bahwa dia memang layak diberi tanggung jawab dan dipercayai. Sekalipun si Pemimpi ini berada dalam penjara, dia tetap mempedulikan orang lain. Itulah sebabnya, Tuhan memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepadanya.

Ini menjadi cermin bagi saya. Apakah saya sudah mengerjakan bagian saya dengan penuh tanggung jawab? Apakah saya mempedulikan orang lain? Apakah saya layak dipercayai tanggung jawab yang lebih besar? Apakah saya sudah rendah hati dan bersandar hanya kepada Tuhan sehingga Tuhan akhirnya dapat berkata kepada saya,” Pergilah, pintu sudah Kubukakan untukmu”? (dra)

No comments: