Monday, March 9, 2009

Menyelamatkan Jiwa

FOKUS KITA - 8 Maret 2009


Di sebuah pantai laut yang terkenal karena banyaknya kapal yang karam, ada sebuah stasiun penyelamatan kecil yang dibuat seadanya. Sebenarnya, stasiun itu hanya berupa gubuk dengan sebuah perahu dan sedikit anggota. Tetapi, mereka dengan penuh pengabdian terus-menerus mengawasi laut yang selalu bergolak. Tanpa banyak memikirkan diri sendiri, mereka keluar siang dan malam tidak kenal lelah untuk mencari orang yang terancam bahaya atau hilang. Banyak sekali jiwa yang diselamatkan oleh stasiun penyelamatan itu. Lama-lama tempat itu jadi termasyur.

Beberapa orang di antara mereka yang telah diselamatkan, di samping orang lain sepanjang pantai laut itu, ingin berhubungan dengan rumah kecil tersebut. Mereka bersedia memberikan waktu, tenaga, dan uang untuk mendukung tujuannya. Beberapa perahu baru pun dibeli. Anggota-anggota baru dilatih. Stasiun yang dulunya tidak dikenal, kasar buatannya dan boleh dikata tidak penting, mulai berkembang. Beberapa anggotanya merasa tidak senang karena gubuknya begitu buruk dan tidak memadai peralatannya. Mereka merasa bahwa tempat yang lebih nyaman harus disediakan. Dipan darurat diganti dengan perabotan yang bagus. Peralatan kasar buatan sendiri dibuang, dan sistem yang modern serta berkelas dipasang. Tentu saja gubuk itu harus dirobohkan untuk memberikan tempat kepada semua tambahan perlengkapan, perabotan, sistem, dan perencanaan. Setelah semua pembaruan selesai, stasiun penyelamatan ini menjadi tempat perkumpulan yang populer dan tujuannya mulai bergeser. Sekarang stasiun itu digunakan se­macam gedung klab, bangunan yang menarik untuk pertemuan umum. Menyelamatkan jiwa, memberi makan orang yang kelaparan, menguatkankan hati yang ketakutan, dan menenangkan pikiran yang terganggu sudah jarang terjadi sekarang.

Kini lebih sedikit anggota yang tertarik untuk berani menghadapi laut dalam misi penyelamatan jiwa, sehingga mereka menyewa kru perahu penyelamat profesional untuk melakukan pekerjaan itu. Walaupun demikian, tujuan asli stasiun itu tidak dilupakan sepenuhnya. Motif penyelamatan jiwa masih dipertahankan dalam dekorasi klab. Bahkan ada sebuah perahu penyelamat yang dilestarikan dalam ruang “Kenangan”, yang didekor manis dengan tata lampu yang lembut dan tidak langsung, yang membantu­ menyembunyikan lapisan debu pada perahu yang sudah tidak digunakan lagi.

Kira-kira pada waktu itu sebuah kapal besar karam di pantai dan kru perahu penyelamat mendaratkan orang-orang yang kedinginan, basah, dan setengah terbenam. Mereka kotor, beberapa di antaranya sakit dan kesepian. Lain-lainnya berkulit hitam dan “berbeda” dengan mayoritas anggota klab. Klab baru yang indah tiba-tiba menjadi kotor dan berantakan. Sebuah komite khusus mengusahakan agar sebuah rumah bilas dibangun diluar dan jauh dari klab, sehingga korban kapal karam bisa membersihkan diri dulu sebelum masuk.

Pada rapat berikutnya, ada kata-kata yang keras dan rasa marah, yang mengakibatkan terjadinya perpecahan di kalangan anggotanya. Sebagian besar anggota klab ingin menghentikan semua kegiatan penyelamatan jiwa dan keterlibatan dengan korban kapal karam. Alasannya, “Ini terlalu tidak menyenangkan, ini rintangan bagi kehidupan sosial kita. Ini membuka pintu bagi orang-orang yang bukan dari jenis kita!”

Sebagaimana yang akan Anda duga, beberapa orang masih bersikeras ingin terus menyelamatkan jiwa. Sebab, menyelamatkan jiwa adalah tujuan utama mereka dan bahwa satu-satunya alasan keberadaan mereka adalah mengurus siapa saja yang memerlukan pertolongan tanpa memperdulikan keindahan, ukuran atau dekorasi klab. Namun, sebagian orang ini kalah dalam pemungutan suara dan diberi tahu bahwa jika masih ingin terus menyelamatkan jiwa dari berbagai jenis orang yang kapalnya karam di perairan itu, mereka bisa mulai mendirikan stasiun penyelamatan mereka sendiri di ujung pantai! Akhirnya, itu mereka lakukan.

Sementara tahun-tahun berlalu, stasiun yang baru mengalami perubahan yang sama. Ia berkembang menjadi klab baru dan stasiun penyelamatan yang baru pun didirikan lagi. Sejarah terus mengulang dirinya, dan jika Anda mengunjungi pantai itu hari ini, Anda akan menemukan sejumlah besar klab yang eksklusif dan mengagumkan sepanjang garis pantai, yang dimiliki dan dioperasikan oleh kaum profesional licik yang sudah kehilangan semua tujuan utama penyelamatan jiwa.

Karamnya kapal masih terjadi di perairan itu, tetapi sekarang sebagian besar korban tidak terselamatkan. Setiap hari mereka tenggelam di laut, dan begitu sedikit orang yang peduli. Sangat sedikit sekali.

Bagaimana dengan kehidupan Anda sekarang? Apakah seperti stasiun penyelamatan di atas yang sudah kehilangan tujuan keberadaannya yang semula karena begitu banyaknya perubahan “menyenangkan” yang me-lena-kan Anda? Atau, masihkah Anda peduli dengan mereka di luar sana?(jas)

Diambil dari: “Growing Strong in the Seasons of Life by Charles Swindoll”

No comments: