Saturday, October 4, 2008

Penuntun Saat Teduh Pribadi 6-12 Oktober 2008

HIDUP DALAM ANUGERAH ALLAH

Senin, 6 Oktober 2008

Pertobatan Yang Sejati

Yesaya 1:16-18

Pertanyaan perenungan:
Apa yang dikatakan nabi Yesaya tentang bertobat/membersihkan diri? (ayat 16-17).
Apakah Tuhan akan mengampuni setiap dosa kita?

Pengajaran:
Hidup kita adalah hidup yang selalu penuh dosa atau jatuh dalam dosa. Tidak ada satupun manusia yang benar, karena telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Itu sebabnya sangat perlu bagi kita untuk belajar hidup dengan memahami anugerah Allah. Anugerah dalam bahasa aslinya adalah “charis” yang berarti pemberian cuma-cuma. Dalam bahasa Inggris : ‘grace’, dalam bahasa latin : ‘gratis’. Anugerah terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah pengampunan. Apapun dosa kita, walaupun merah seperti kirmizi, Tuhan mampu dan mau mengampuni serta memulihkan hidup kita menjadi putih seperti salju. Ini adalah gambaran anugerah yang luar biasa tentang kasih Tuhan yang bisa kita alami.

Namun, kita mesti hati-hati dengan pengajaran pertobatan yang palsu, hanya mau menerima anugerah saja, tetapi tidak mau berhenti berbuat dosa dan hidup taat kepada Firman. Ini bukan pertobatan yang sejati (Matius 3:8). Ada konsekuensi yang harus kita lakukan setelah menerima anugerah. Pertobatan sejati memiliki dua sisi, seperti mata uang koin yang tidak dapat dipisahkan. Pertama, Tuhan pasti akan mengampuni dan menghapuskan setiap dosa kita. Kedua, setelah menerima anugerah pengampunan ada konsekuensi yang harus kita lakukan. Kita dituntut untuk mempunyai perubahan hidup, yaitu hidup dalam ketaatan terhadap Firman Allah (Roma 1:8), berbuat baik, mengusahakan keadilan, mengendalikan (menghakimi) orang kejam (jahat), membela anak yatim dan memperjuangkan perkara janda-janda (membela dan menolong orang-orang yang tidak mampu).

Penerapan Pribadi:
1. Bagaimana Anda memahami anugerah Allah?
2. Apakah Anda sudah hidup dalam pertobatan yang sejati?
3. Jika belum, maukah Anda mulai saat ini bertobat dengan sungguh-sungguh?


Selasa, 7 Oktober 2008

Jangan Sombong!
Yesaya 2:11-12, 17

Pertanyaan perenungan:
1. Mengapa ayat dengan isi yang sama ditulis 2 kali?
2. Apa yang dimaksud dengan ‘direndahkan’ dan ‘ditundukkan’ ? (ayat 11 & 17).
3. Menurut Anda, siapa yang menjadi sombong dalam ayat-ayat ini?

Pengajaran:
Ayat-ayat dalam pasal ini ditujukan kepada bangsa Israel (keturunan Yakub, ayat 6). Mereka telah menjadi sombong dan angkuh di mata Tuhan, padahal mereka adalah bangsa pilihan Tuhan, bangsa imam yang seharusnya memberikan teladan kehidupan kepada bangsa-bangsa lain. Kita akan belajar beberapa aspek dosa kesombongan hari ini:


1. Kesombongan artinya hidup tidak mengandalkan Allah (ayat 8-9).
Jika kita mengaku percaya kepada Allah Yesus Kristus tapi kita tidak benar-benar mengandalkan Dia sebagai penolong kita dan berharap pada hal-hal lain (kekuatan, kepandaian, keuangan, dll) maka sebenarnya kita sudah menjadi sombong.


2. Sombong artinya berharap kepada manusia (ayat 22).
Selain berharap kepada ilah-ilah lain, orang yang sombong adalah orang yang dalam hidupnya mengandalkan orang lain. Yeremia 17:5 berkata “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia….”


3. Kesombongan pasti dihukum Tuhan (ayat 12).
Tuhan benci kepada orang sombong. Ciri-ciri orang sombong adalah: tidak mau ditegur; mengandalkan kehebatan (keuangan, kepandaian, dll); tidak mau hidup dalam komunitas; tidak berdoa (doa adalah tanda pengakuan bahwa Allah ada dan sanggup menolong kita); hidup kurang berserah, semua dipikirkan atau dihadapi sendiri.Ini tanda-tanda hidup kurang mengandalkan Allah.
Apakah kita sudah menjadi sombong? Mari bertobat dan mengakui setiap kelemahan kita kepada Allah. Hanya Allah yang sanggup menolong, membebaskan serta memberkati hidup kita (Yeremia 17:7-8).

Penerapan pribadi:
1. Cobalah ambil waktu dan bertanya kepada orang terdekat (suami, istri, anak, saudara) apakah selama ini Anda sudah menjadi orang yang sombong.
2. Mari hidup dalam komunitas. Komsel adalah wadah untuk karakter kita dibentuk agar kita menjadi orang yang tidak sombong. Jika Anda belum bergabung dengan komsel manapun, jangan tunggu lagi, mari proaktif dan terlibat dalam komsel.


Rabu, 8 Oktober 2008

Taat atau Berontak
Yesaya 1:19-20

Pertanyaan perenungan:
1. Apa yang dimaksud dengan “memakan hasil baik dari negeri itu”? (ayat 19).
2. Mengapa Tuhan mengucapkan peringatan kerasnya dalam ayat 20?

Pengajaran:
Dalam hidup kita selalu ada dua pilihan, jalan yang lebar atau jalan yang sempit, hidup benar atau salah, mau ke surga atau neraka, dll. Firman Tuhan hari ini mengajar kita dua pilihan hidup, hidup diberkati atau hidup terkutuk, mau taat atau memberontak. Hidup taat itu tidak mudah. Coba perhatikan betapa banyak rambu lalu lintas yang dipasang pada akhirnya dilanggar, dll. Mengapa hal ini terjadi? Rupanya memang sudah dari asalnya manusia itu pemberontak, sulit untuk taat. Kakek dan nenek moyang kita Adam dan Hawa juga memberontak terhadap perintah Allah.

Seruan nabi Yesaya ini adalah seruan pertobatan, apakah kita mau taat kepada Allah. Jika memberontak, kita akan menerima hukuman Tuhan dan hidup dalam kutukan. Hidup dalam ketaatan adalah hidup dalam berkat-berkat Allah (Ulangan 30:9-10). Mulai dari berkat pekerjaan, berkat buah kandungan (keturunan), berkat segala hasil ternak dan hasil bumi. Wow! Ini gambaran berkat yang melimpah dari Allah.

Ulangan 30:10 menggambarkan 3 tindakan ketaatan, yaitu: mengasihi Tuhan, menuruti segala perintahNya dan hidup bergantung sepenuhnya kepada Allah. Jika kita mengasihi Tuhan maka pasti kita akan mau menuruti segala perintah Allah. Ketika kita menuruti segala perintah Allah, berarti kita hidup bergantung sepenuhnya kepada Allah dengan menyadari bahwa setiap aspek hidup kita harus sesuai dengan kehendak Allah. Dan, jika kita hidup bergantung sepenuhnya kepada Allah, maka sebenarnya kita sedang mengasihi Allah. Tidak mungkin orang bergantung sepenuhnya tanpa mengasihi. Ketiga tindakan ketaatan ini adalah suatu siklus yang saling berkaitan. Itulah yang dimaksud hidup dalam ketaatan kepada Allah yang akan membawa kita hidup dalam berkat yang seutuhnya dengan berkelimpahan.

Penerapan Pribadi:
1. Coba renungkan, pilihan hidup yang mana yang Anda ambil selama ini?
2. Apakah Anda mau hidup diberkati?
3. Apa Anda mau hidup taat? Renungkan hal ini dalam-dalam.


Kamis, 9 Oktober 2008

Hidup Dalam Pengajaran Allah Yang Benar
Yesaya 5:20-24

Pertanyaan perenungan:
1. Menurut Anda siapa yang mungkin melakukan hal-hal yang salah dalam melakukan pengajaran? (ayat 21).
2. Mengapa mereka melakukan hal itu?

Pengajaran:
Sekarang ini banyak pengajaran sesat yang menyusup ke tengah masyarakat termasuk kalangan anak-anak Tuhan. Kemarin saya bertemu dengan seorang mahasisiwi universitas Kristen yang menanyakan tentang buku “The Secret”. Ini adalah sebuah buku tentang motivasi diri yang sangat laris dan terkenal di mana-mana. Ada seorang pebisnis Kristen yang sangat getol mempopulerkan buku ini kepada siapa saja termasuk kepada saya. Buku ini adalah sesat sebab berdasarkan aliran “jaman baru” (new age). New age sendiri adalah bentuk sinkretisme (percampuran agama-agama) yang mengambil bentuk dasar dari sebuah agama yang berasal dari India. Kita mesti berhati-hati agar kita tidak terpengaruh pada hal-hal ini.

Nabi Yesaya mengatakan: “Celakalah orang yang mengatakan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat” (ayat 20). Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena ada orang-orang yang menolak pengajaran Tuhan semesta alam (ayat 24). Kita tidak boleh menolak didikan Firman Tuhan (Amsal 3:11). Siapa menolak didikan Firman Tuhan membuka dirinya untuk tersesat. Cara yang paling akurat untuk melindungi diri kita adalah memahami Firman Tuhan dengan benar sebagai penyaring yang paling utama. Seorang yang bekerja sebagai teller bank sudah dilatih bagaimana mengenali uang palsu. Caranya, dia dilatih untuk meraba uang asli beratus-ratus kali, sehingga pada waktu dia meraba uang palsu dia langsung bisa mengenali. Mari kita terus belajar Firman Tuhan, sehingga kita tidak akan pernah tersesat dengan pengajaran-pengajaran palsu.

Perenungan pribadi:
1. Apakah Anda pernah terlibat/tersesat dengan pengajaran palsu (New Age, Mormon, Saksi Yehuwah, dll)?
2. Jika pernah, mari datang kepada pemimpin rohani Anda untuk mendapatkan pengarahan yang benar bagaimana bisa terlepas dari hal-hal itu.
3. Bagaimana dengan komitmen Anda membaca, merenungkan, melakukan dan membagikan Firman Tuhan?


Jumat, 10 Oktober 2008

Ini Aku, Utuslah Aku
Yesaya 6:1-8

Pertanyaan perenungan:
1. Mengapa Yesaya berkata: “Celakalah aku! Aku binasa.” (ayat 5).
2. Mengapa Allah mau memanggil orang yang berdosa seperti Yesaya?

Pengajaran:
Saat Tuhan memanggil nabi Yesaya, Dia mengutus malaikat Serafim untuk menemui Yesaya (ayat 6). ‘Serafim’ berarti ‘sesuatu yang terbakar, berwarna terang’. Malaikat ini membawa kemuliaan Tuhan. Kemudian malaikat Serafim itu mengambil sebuah bara api yang kemudian ditempelkan ke mulut nabi Yesaya. Dengan melakukan hal itu, maka kesalahan dan dosa nabi Yesaya sudah diampuni. Apa artinya hal ini? Artinya, Yesaya telah dikuduskan, dipisahkan dari orang lain untuk diberi tugas khusus, yaitu melayani Allah. Dikuduskan artinya dipisahkan dari dunia. Hidup kita juga telah dikuduskan, dipisahkan dari dunia ini, namun kita diutus kembali ke dunia ini. Yohanes 17:17-19, murid-murid Yesus telah dikuduskan dalam kebenaran. Kebenaran itu adalah Firman Tuhan yang telah mereka terima, kemudian mereka diutus kembali ke dalam dunia

Apa tugas kita sebagai orang yang telah dikuduskan/dipisahkan? Yohanes 17:20 berkata: “Supaya dunia percaya oleh pemberitaan mereka.” Apa yang harus diberitakan? Ada 2 hal yaitu memberitakan Injil (kabar keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus) dan menyampaikan kasih Bapa kepada orang yang belum percaya. Ini adalah panggilan kita. Dimanapun kita berada, apapun profesi kita, kita mesti melakukan 2 hal ini: memberitakan nama Yesus dan membagikan kasih Allah kepada dunia ini. Yesaya menanggapi panggilan Allah ini dengan berkata: “Ini aku, utuslah aku” (Yesaya 6:8). Bagaimana tanggapan Anda?

Perenungan Pribadi:
1. Apakah Anda sudah menanggapi panggilan Allah untuk memberitakan Injil dan membagikan kasih Allah?
2. Apa yang Anda akan lakukan di dunia sehari-hari?


Sabtu, 11 Oktober 2008

Jangan Takut!
Yosua 1: 1-11

Pertanyaan Perenungan:
Temukanlah suatu kalimat yang diulangi sampai 3 kali. Kalimat apakah itu?
Menurut Anda, mengapa Tuhan mengulanginya sampai 3 kali?
Apa resepnya untuk kita bisa melakukan perintah Tuhan tsb.? (Ayat 6-9)

Pengajaran:

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Jangan kecut dan tawar hati.” Dengan kata lain, Allah menegaskan, “Jangan takut!” Ketakutan itu sebenarnya adalah perasaan yang selalu muncul dari pikiran, yang dipelajari dari sepanjang kehidupan kita. Karena ketakutan muncul dari pikiran, maka kita harus belajar mengendalikan pikiran kita.

Ada rasa takut yang terjadi karena memang kita bersalah atau takut kehilangan sesuatu. Selain itu ada ketakutan yang diakibatkan karena terlalu banyak menonton film-film horor, sehingga bayangan-bayangan film itu masuk dalam memori pikiran kita dan saat kita berada di tempat gelap, kita jadi ketakutan. Semuanya bersumber dari pikiran kita. Bagaimana mengatasi ketakutan? Ada 3 langkah:

1. Mengisi pikiran dengan firman Tuhan siang dan malam (Yosua 1:7-8). Berhenti menonton film-film seram, horror, dll. Mintalah darah Yesus menyucikan segala memori pikiran yang pernah kita isi dengan hal-hal yang negatif. Mari kita tekun mengisi pikiran dengan hal-hal yang benar, yaitu pikiran-pikiran yang dari Tuhan (Filipi 4:8-9).

2. Serahkan setiap ketakutan kepada Tuhan. Jika kita takut karena ada dosa, mari bertobat dan minta ampun kepada Tuhan (1 Yohanes 1:9). Dia pasti akan mengampuni kita. Jika itu karena masa depan yang tidak menentu, jangan mendengar hal-hal yang negatif atau bergaul dengan orang-orang yang kurang beriman. Itu akan mengakibatkan iman kita menjadi lemah.

3. Bangunlah kesadaran yang tinggi akan penyertaan Allah yang tak pernah berhenti (Yosua 1: 9).

Perenungan Pribadi:
1. Apakah Anda sering dihinggapi rasa takut? Rasa takut tentang apa saja?
2. Dari 3 langkah tsb. di atas, hal yang mana selama ini tidak Anda lakukan?
3. Renungkanlah Yesaya 30:15 sampai Anda memperoleh kekuatan untuk mengalahkan rasa takut.


Minggu, 12 Oktober 2008

Allah Beserta Kita
Yesaya 7:10-14

Pertanyaan perenungan:
1. Apa yang dikatakan oleh nabi Yesaya kepada raja Ahas? (ayat 11)
2. Apa jawab raja Ahas? (ayat 12)
3. Menurut Anda, apa arti jawabannya itu?

Pengajaran:
Raja Ahas adalah seseorang yang hidup di dalam dosa (II Raja-Raja 16; II Tawarikh 28 :1-2,19). Ketika Yesaya bertemu dengan Raja Ahas, dia sebenarnya sedang menawarkan suatu rekonsiliasi (perdamaian) antara Raja Ahas dengan Allah. Dia berkata: “Mintalah suatu tanda” (ayat 11). Artinya begini: “Hai Raja Ahas, mengapa engkau menjadi orang yang tidak setia kepada Allah nenek moyangmu? Mengapa engkau justru datang kepada ilah-ilah yang lain? Jika kau berpikir bahwa Allah Yahweh itu bukan Allah yang hidup dan berkuasa, maka mintalah tanda apapun, baik itu dari dari dunia orang mati atau dari surga, maka Allah akan menunjukkan kepadamu!”

Sebenarnya ini menunjukkan betapa Allah sungguh baik dan penuh kasih setia, terhadap orang seperti raja Ahas. Dia masih mau menunjukkan kemurahan hatiNya, ingin ada pertobatan dari hidupnya, sekalipun Ahas menolak kasih karunia Tuhan ini dengan memilih untuk tetap tidak mau datang kepada Tuhan (ayat 12) dan mengucapkan kata-kata yang kelihatan baik dan sopan: “Aku tidak mau meminta apalagi mencobai Tuhan”.

Sekali lagi di tengah-tengah penolakan seperti itu, Tuhan tetap menunjukkan kasih sayangNya yang besar. Dia memberikan janji kepada keturunan Daud (dalam hal ini juga keturunan Ahas) bahwa akan datang anak perjanjian yang akan membawa pembebasan terhadap keturunan Daud. Yesus, Anak Allah, akan lahir dari keturunan Raja Ahas. Mengapa janji kelahiran Imanuel ini diberikan kepada Raja Ahas dan bukan kepada keturunan Daud yang baik dan setia kepada Allah, seperti raja Hizkia misalnya? (2 Tawarikh 29:1-2). Kita belajar bahwa Allah tidak pernah meninggalkan orang yang berdosa. Dia membenci dosa, tetapi mengasihi orang yang berdosa. Dia Allah yang akan selalu mengingat setiap kita, siapa kita, apapun keadaan kita. Dia Allah yang penuh dengan kasih setia. Selalu beserta kita, itulah namanya: “Immanuel” (Allah beserta kita).

Perenungan Pribadi:
1. Jika Anda tahu dan menyadari bahwa Allah selalu beserta Anda, apakah Anda bersyukur dan berterimakasih kepadaNya?
2. Jika Anda tahu bahwa Allah selalu setia kepada kita meskipun banyak kesalahan, apa yang akan Anda lakukan?

No comments: