Saturday, November 27, 2010

Bukan untuk Menyenangkan Orang, Tetapi Menjadi Terang

FOKUS KITA


Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

-I Korintus: 9:19-

Pada suatu hari yang dingin di bulan Desember beberapa tahun yang lalu, seorang anak kecil berusia sekitar 10 tahun sedang berdiri di trotoar, di depan sebuah toko sepatu. Dia sedang melihat ke dalam toko lewat jendela kaca, dan tubuhnya gemetaran karena kedinginan. Anak ini tidak mengenakan sepatu.

Seorang wanita mendekati anak itu dan berkata, "Ah, kamu kelihatannya sedang berpikir keras sekali!"

"Iya, Nyonya. Saya sedang meminta Tuhan untuk memberikan kepada saya sepasang sepatu," jawab anak kecil itu.

Tiba-tiba wanita itu menarik tangan anak itu dan masuk ke dalam toko. Wanita itu meminta salah seorang karyawan toko untuk mengambilkan setengah lusin kaos kaki berukuran kecil. Lalu, wanita itu meminta apakah bisa disediakan air dan handuk. Karyawan itu segera mengambilkan.

Kemudian wanita itu menuntun anak kecil itu ke bagian belakang toko, dan menanggalkan sarung tangannya dan berlutut. Ia membasuh kaki mungil anak itu lalu mengeringkannya dengan handuk.

Saat dia selesai membersihkan kaki anak itu, karyawan toko sudah kembali dengan membawakan kaos kaki. Setelah memakaikan kaos kaki ke kaki anak kecil yang sangat kedinginan itu, wanita itu membeli sepasang sepatu bagi anak itu.

Dia memasukkan kaos kaki selebihnya ke kantong kecil dan memberikannya kepada anak itu. Sambil membelai lembut kepala anak itu dia berkata, "Pasti kamu merasa lebih nyaman sekarang."

Seraya, wanita itu berpaling untuk pergi, anak kecil yang masih terheran-heran itu memegang tangan wanita itu dan memandang wajahnya, dengan air mata yang berlinangan di pipi dia bertanya, "Apakah Nyonya istrinya Tuhan?"

Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan ke sebuah tempat dimana latar belakang budaya dan kebiasaan orang-orangnya berbeda dengan keseharian saya. Itu bukanlah perjalanan saya yang pertama kali ke sana, melainkan yang kesekian kalinya dan saya memiliki banyak teman baik di sana.

Selama berada di tempat tersebut, saya berusaha menempatkan dan menyesuaikan diri sebaik yang saya bisa di antara masyarakat di saya. Saya berusaha bersikap sesuai nilai-nilai luhur yang ada di tempat tersebut dengan maksud menghormati, menghargai dan beridentifikasi dengan kehidupan di tempat tersebut. Saya tidak ingin menciptakan tembok pemisah antara saya dengan mereka dengan mempertahankan sikap dan kebiasaan kesehariaan saya, terlebih mereka mengenal saya sebagai salah seorang aktivis/pelayan gereja.

Tentu saja saya tidak sedang berpura-pura atau menipu mereka dengan berlaku sesuai nilai-nilai luhur masyarakat setempat demi mendapatkan simpati dan kasih sayang mereka. Saya tulus melakukannya, namun tetap tidak meninggalkan karakter saya yang sebenarnya. Saya belajar menjadi teman mereka, mendengarkan mereka serta melayani mereka.

Sayangnya, perjalanan saya yang terakhir ke tempat itu diwarnai insiden yang ‘kurang menyenangkan’ akibat salah paham dan asumsi dari beberapa orang yang saya kenal di sana. Saya sempat sedih dan protes mendengar berita-berita miring mengenai saya yang berhembus di sana. Rasanya segala sikap dan perbuatan baik saya selama di tempat itu menjadi tidak berarti. Rasanya setiap ketulusan dan penerimaan mereka seperti pura-pura saja. Dan setiap perkataan manis mereka terdengar seperti kebohongan di telinga dan hati saya. Saya hampir-hampir tidak memahami mereka.

Saya sempat mengeluh kepada Tuhan dan teman dekat saya. Tanpa bermaksud membela diri, saya mengeluh, “Apa yang kurang dariku? Aku sudah berusaha bersikap baik dan berbuat baik kepada mereka, tapi mengapa mereka menikam saya dari belakang? Mengapa mereka begitu tertarik ‘mengurusi’ saya? Hal-hal yang bukan esensi maupun prinsip mengapa di-blow up begitu rupa? Mengapa penampilan ‘lahiriah’ terkesan lebih penting untuk mereka ‘urusi’ ketimbang hal-hal prinsip? Jangan-jangan cara aku makan, berjalan dan tidurpun dikoreksi oleh mereka. Pendek kata, mengapa mereka hanya mementingkan penampilan luar daripada isi hati dan alasan benar dibalik penampilan itu? Padahal mereka sama-sama orang Kristen.”

Beberapa teman dekat saya menghibur dan menguatkan saya. Teman terdekat saya dengan bijak menyemangati saya, “Kehidupan rohani yang excellent saja tidak cukup. Apalagi ketika kamu masuk ke sebuah tempat yang sangat berbeda budaya dan nilai-nilainya. Mereka benar-benar melihat cara hidupmu di tengah-tengah mereka, apakah cara hidupmu benar-benar se-excellent kehidupan rohanimu. Itulah cara mereka ‘membaca’ Injil, yaitu melalui kehidupan yang kamu tampilkan. Sudah bagus kamu berusaha bersikap dan berbuat baik di tengah mereka. Mungkin ada beberapa orang yang melihatmu ‘masih kurang’. Tapi, jangan menyerah. Teruslah bersikap baik dan berbuat baik, karena akan tiba waktunya justru mereka akan diberkati olehmu dan ‘dimenangkan’ oleh kelakuanmu.”

Usai teman saya menyemangati saya, Tuhan mengingatkan saya kehidupan Paulus dalam 1 Korintus 9:19-23. Bagaimana dia hidup di antara orang-orang yang berbeda budaya dan nilai-nilai dengannya. Tanpa keluar dari prinsip kebenaran, dia hidup seperti orang-orang yang dilayaninya. Bukan untuk menyenangkan atau memuaskan mereka, tetapi supaya ia dapat memenangkan semakin banyak orang.

Saya dan Anda tidak akan pernah bisa memuaskan orang banyak dengan sikap maupun perbuatan baik kita, sebab tingkat kepuasan setiap orang berbeda-beda. Dan hal itu memang bukan alasan yang tepat untuk setiap sikap dan tindakan baik kita. Kalau kita bersikap dan berbuat baik, itu bukan untuk menyenangkan orang (sekalipun itu berdampak pada kepuasan orang). Tapi supaya orang banyak dapat ‘membaca’ Injil lewat hidup kita. Sekalipun budaya maupun nilai-nilai luhur dalam masyarakat adalah buatan manusia, tetapi selama itu tidak bertentangan dengan firman Tuhan, bahkan justru menguntungkan (mendukung) pemberitaan Injil, kita patut mengusahakan sekuat tenaga kita untuk melakukannya. Bukan hanya sekali, atau ketika mood kita sedang baik saja, tetapi terus-menerus. Bukan untuk menyenangkan orang, tetapi supaya terang kita semakin bercahaya, sehingga banyak orang diselamatkan dan dipulihkan lewat hidup kita. Itulah esensinya. (l@)

Perjalanan Menuju Merapi

SEPUTAR KITA


Suatu kehormatan bagi kami diutus mewakili Gereja Krispen guna mengunjungi korban Gunung Merapi. Selama 5 hari, 4 malam saya (Ruth), Bapak Paulus, Memy dan Diyan harus meninggalkan sejenak keluarga kami & seabreg kegiatan rutin masing-masing.

Perjalanan kami dimulai pada hari Sabtu, 13 November pagi pada pukul 05.30 WIB. Dengan membawa sumbangan kebutuhan untuk para pengungsi seperti: susu bagi ibu hamil dan anak, sabun mandi, shampo, sarden, biskuit serta dana untuk perbaikan pasca meletusnya Gunung Merapi. Setelah hampir 10 jam, kami akhirnya tiba di Salatiga, salah satu tempat pangkalan relawan. Di kota ini kami bergabung dengan Gereja IFGF GISI yang sudah mendirikan beberapa posko untuk korban Merapi. Koordinator kami adalah Bapak Timotius Tri, salah seorang hamba Tuhan di sana yang memiliki hati misi yang besar. Beliau membekali kami dan mengatakan bahwa fokus mereka adalah pemulihan trauma terhadap anak-anak kecil, tetapi kami juga diminta aktif bergerak untuk melayani para pengungsi dewasa.

Setelah beristirahat sejenak, menjelang petang kami berangkat menuju tempat pengungsi yang berada di posko Boyolali. Para pengungsi yang berjumlah 400 orang ditampung di sekolah SMA 1 Negeri. Disana kami bergabung dengan tim Salatiga dan tim Jakarta.

Kegiatan yang kami lakukan antara lain mengajak anak-anak menggambar, bermain, menonton film bersama. Selain itu, kami menghibur orang-orang dewasa dengan bernyanyi. Kami juga banyak mendengar curhat para pengungsi yang rata-rata bingung dengan apa yang harus mereka lakukan setelah bencana Merapi ini usai, karena sumber penghasilan mereka yaitu tanaman di sawah dan ladang hancur semua, ternak banyak yang mati dan rumah mereka rusak dihembus “Wedhus Gembel”. Mereka membutuhkan waktu setidaknya 4 bulan untuk bisa bercocok tanam kembali serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk memberi makan ternak (karena rumput pakan ternak harus dibeli).

Hari Senin, kami kembali ke Salatiga karena sudah banyak dari para pengungsi yang pulang ke rumahnya.

Hari Selasa, kami bersama Bapak Timotius Tri pergi ke desa Rogobelah, yang berjarak 4-5 km dari puncak Merapi. Di desa ini, ada sekitar 80 kepala keluarga, dimana kami melihat pemandangan yang sangat memprihatinkan. Tidak ada satupun tanaman yang masih hidup, semuanya putih terkena debu. Rumah para warga juga tertutup debu tebal yang mencapai 40 cm. Saat itu langit mendung dan hujan gerimis sehingga kami harus segera kembali ke pos pangkalan. Karena jika hujan bertambah deras, maka jalanan yang tertutup debu akan menjadi licin dan cukup membahayakan bagi kami bepergian menggunakan mobil.

Setelah dari desa Rogobelah kemudian kami pergi ke posko logistik di Blabak Muntilan, dan disitu ada sekitar 1600 orang pengungsi. Kota Muntilan adalah kota yang mengalami kerusakan yang cukup parah juga karena banyak lumpur dari debu di sepanjang jalan tersebut sehingga kami harus berjalan hati-hati.

Hari Rabu kami kembali pulang ke Surabaya. Suatu pengalaman yang sangat berkesan bagi kami berempat karena kami diingatkan Tuhan untuk tetap memiliki hati bagi jiwa-jiwa. Tubuh kami memang capek karena perjalanan jauh, kami juga tidak bisa tidur sebab harus tidur di dalam mobil dan tenda. Tetapi kami puas bisa berbagi kasih dengan orang yang menderita. (Ruth Salmah, Pengawas Area Family).

Info Kita - 28 November 2010

Hadirilah!

Ibadah Pra Natal Kaum Wanita

Rabu

8 Desember 2010

Pukul 16.00 WIB

Di Gedung Gereja

Pembicara : Pdt. Stevanus Suwarno

Ibadah Natal Kaum Wanita

Rabu

15 Desember 2010

Pukul 16.00 WIB

Di Gedung Gereja

Pembicara : Bp. James Soeharto

Pokok doa minggu ini - 28 November 2010


  1. Supaya Tuhan menyertai pemerintah dan instansi-instansi terkait di dalam menangani para korban pasca bencana (Merapi, Mentawai, Wasior), baik perbaikan infrastruktur maupun pemulihan kehidupan mereka.

  1. Agar pemerintah benar-benar bertanggung jawab dalam membina dan melatih serta menjamin keselamatan para TKI sehingga tidak ada lagi korban akibat kekerasan maupun penyiksaan.

  1. Agar Kapolri, KPK dan seluruh pihak terkait berani menindak dengan tegas serta menuntut sampai tuntas setiap aparat hukum maupun pejabat yang terlibat dalam kasus mafia pajak Gayus.

Penuntun Saat Teduh Pribadi 29 November-5 Desember 2010

"Jehovah, Aku adalah Aku”

Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu,

sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN.”

-Mazmur 9:11-

Senin, 29 November 2010

JEHOVAH RAPHA (ALLAH PENYEMBUH)

Lukas 5:12-16; Keluaran 15:26

Pengajaran:

Ada seorang pria yang bernama Denny. Denny memiliki seorang istri dan dua orang anak. Suatu ketika Denny sedang menyampaikan Firman Tuhan di sebuah tempat yang cukup jauh dari rumahnya.

Ibadah Raya akan dimulai pada pukl 10.00. Pada pukul 09.30, Denny mendapatkan kabar dari istrinya bahwa anaknya yang paling kecil sedang mengalami sakit yang cukup parah. Denny memastikan istrinya supaya bisa mengantar anaknya ke dokter, dan istrinya meyakinkan Denny bahwa ia masih mampu untuk mengantarkan anaknya ke dokter. Denny dihadapkan pada dua pilihan yang cukup sulit. Apakah ia akan tetap berkotbah atau pulang dan menolong anaknya. Pada akhirnya, Denny merasa yakin bahwa Tuhan menyuruh ia untuk menyampaikan Firman kepada jemaat yang ia layani dan ia berdoa: “Tuhan saat ini Engkau mengutusku untuk menyampaikan Firman kepada jemaat di tempat ini, saat ini juga aku memohon kepada-Mu supaya Engkau menyembuhkan anakku karena aku sangat percaya bahwa Engkau adalah Allah yang menyembuhkan. Amin”

Setelah ibadah selesai, Denny kembali menghubungi istrinya. Mujizat terjadi pada anak mereka yang sedang sakit. Istrinya menceritakan bahwa setelah ia membawa pulang anaknya dari dokter, Allah menyembuhkan anak itu dalam perjalanan pulang. Dan yang paling membuat mereka bersyukur adalah kesembuhan terjadi tepat ketika Denny berdoa untuk pelayanan dan anaknya yang sedang sakit.

Ia adalah Jehovah Rapha, Allah yang menyembuhkan. Hanya Ia yang sanggup menyembuhkan segala jenis penyakit yang kita alami. Mintalah kesembuhan dari Allah, maka Ia akan menyembuhkan kita.

Selasa, 30 November 2010

JEHOVAH JIREH (ALLAH MENYEDIAKAN)

Kejadian 22:1-19

Pengajaran:

Ada satu pelajaran lagi yang dapat kita tarik dari kisah penyerahan anak Abraham di Tanah Moria. Allah tidak saja menguji dan menuntut ketaatan dari kita. Ia juga sedang menyediakan sesuatu yang spesial ketika kita takut dan taat kepada perintah-Nya.

Dalam Kejadaian 22:8 Abraham dengan yakin percaya bahwa Allah yang akan menyediakan domba untuk korban bakaran. Padahal saat itu belum ada domba di sekitar mereka dan mereka sendiri tidak membawa domba. Tetapi yang terjadi adalah benar bahwa Allah menyediakan domba itu dan akhirnya Abraham menamai tempat itu “Tuhan menyediakan.” Bahkan sampai sekarang Firman Tuhan berkata bahwa “Di atas gunung Tuhan, akan disediakan.” (Ayat 14).

Allah menyediakan ketika kita berserah penuh kepada-Nya. Kita adalah duta Allah di muka bumi ini. Ia sendiri yang mengutus supaya kita menjadi berkat & terang di sekeliling kita. Oleh karena itu, Ia sendiri yang akan selalu menjamin segala kebutuhan yang kita perlukan selama ada di bumi. Sama seperti Abraham yang sedang Allah utus untuk pergi ke suatu tempat yang belum jelas arahnya. Namun Allah menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh Abraham. Serahkan segala hal yang kita miliki kepada Allah, maka Ia akan menyediakan semua kebutuhan kita.

Rabu, 1 Desember 2010

JEHOVAH SHALOM (ALLAH KEDAMAIAN/KESELAMATAN)

Hakim-hakim 6:1-24

Pengajaran:

Kata yang dipakai dalam Hakim-hakim 6:24 adalah Tuhan itu keselamatan (terjemahan Indonesia). Namun dalam bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama yaitu Jehovah Shalom. Kata “Shalom,” memiliki banyak pengertian yaitu damai lahir-batin, keselamatan, bersahabat, dan aman dalam segala hal.

Kisah dari pertemuan Malaikat Tuhan dengan Gideon membawa dampak “Shalom.” Oleh karena itu Gideon sendiri mendirikan mezbah dan menamai tempat pertemuan mereka yaitu “Jehovah Shalom.” Hal inilah yang pada akhirnya membuat Gideon melakukan perintah Allah dan ia merasa yakin sebab Allah yang menyertai dengan “Shalom-Nya.”

Dalam 2 Korintus 3:17 mengatakan: “Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.” Pernyataan dalam Hakim-hakim 6:24 dan 2 Korintus 3:17 membuktikan bahwa kehadiran Allah dalam hidup manusia sudah seharusnya membawa dampak yang sangat dahsyat, yaitu kemerdekaan, Shalom, keamanan, dll.

Adakah dampak kehadiran Allah dalam hidup kita? Kenapa kita merasa kuatir terus-menerus? Allah tidak berubah. Kita yang sering berubah. Oleh karena itu kita harus terus menyadari kehadiran Allah dan terus membangun hubungan dengan-Nya supaya Shalom dapat kita rasakan dan alami dalam segala situasi.

Kamis, 2 Desember 2010

JEHOVAH ZIDKENU (ALLAH KEBENARAN/KEADILAN)

Yeremia 33:14-26

Pengajaran:

Pada suatu hari yang cerah, seorang petani sedang duduk di bawah pohon kenari sambil mengamati tanaman labunya. Di tengah-tengah lamunanya dia berpikir: “Betapa bodoh dan tidak adil Allah itu! Mengapa Allah meletakkan buah labu yang berat pada tanaman merambat, yang tidak memiliki kekuatan dan menggantungkan kenari yang kecil pada pohon yang cabang-cabangnya dapat menahan berat seorang manusia?” Katanya kemudian: “Ah, seandainya saya jadi Allah, saya akan membuat lebih baik dari itu.”

Tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan jatuhnya sebuah kenari di kepalanya. Langsung saja ia melompat dan berteriak, “Allah adil, Allah adil. Dia bijaksana! Haleluya!!” Coba bayangkan jika buah labu yang jatuh di kepala si petani maka akan lebih parah. (Jakub Taniwidjaja, Ilustrasi Kehidupan)

Allah adalah pembela kita yang sangat adil. Mungkin banyak di antara kita yang saat ini merasa dihina, dituduh atau mendapat perlakukan yang tidak adil. Percayalah bahwa Ia akan berlaku adil pada setiap orang dan Ia akan menyatakan kebenaran-Nya.

Jumat, 3 Desember 2010

JEHOVAH RO’I (ALLAH GEMBALAKU)

Mazmur 23:1-6

Pengajaran:

Allah kita digambarkan seorang gembala. Ia adalah gembala yang baik bahkan melebihi semua gembala yang ada di muka bumi. Kata “Gembala” menggunakan kata “Ra’ah” (bahasa Ibrani) yang memiliki banyak arti, yaitu seorang gembala/ menggembalakan, pemelihara, pemberi makan. Kata ini juga memiliki arti yang menggambarkan seorang yang sedang mendidik dan menggembalakan suatu kelompok manusia.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Allah kita adalah sebagai berikut:

1. Seorang Gembala yang sedang menggembalakan umat-Nya

2. Seorang Gembal pemelihara yang sangat akurat

3. Seorang Gembal yang menjamin semua kebutuhan umat-Nya

4. Seorang Gembal yang sedang mendidik umat-Nya dengan kebenaran

Apakah ada di antara kita yang membutuhkan seorang Gembala yang baik? Ya, hanya Allah yang terbaik. Kita tidak perlu lagi bingung dengan keadaan yang sedang dihadapi atau pilihan-pilihan yang membuat kita depresi. Ia akan menuntun kita sesuai dengan kebenaran-Nya.

Sabtu, 4 Desember 2010

JEHOVAH MEKADDISHKEM (ALLAH MENYUCIKAN)

Keluaran 31:12-17; 1 Yohanes 3:6

Pengajaran:

Ada seorang pengamudi mobil yang sedang melihat seorang petani yang sedang mengamati gudangnya yang rusak. Pada saat itu hujan sangat deras sekali. Pada saat itu juga pengemudi mobil menghentikan mobilnya dan menanyakan apa yang sedang terjadi.

“Atapnya bocor,” kata si petani. “Bocornya sudah terlalu lama dan kini sudah rusak sama sekali.”

“Mengapa tidak bapak perbaiki sejak dulu?” Tanya pengemudi.

“Ya...saya tidak pernah mengurus dan memperbaikinya, karena ketika cuaca cerah, tidak ada masalah. Dan ketika hujan turun, akan terlalu basah untuk memperbaikinya.” Jawab si petani sambil mengangkat kedua bahunya. (Jakub Taniwidjaja, Ilustrasi Kehidupan).

Terlalu mudah bagi kita untuk berpikir, “Ah suatu hari aku akan menghentikan dosa-dosaku, suatu hari aku akan hidup bagi Kristus.” Hari Sabat adalah hari yang sangat khusus bagi bangsa Israel untuk melakukan pembersihan diri dari dosa. Namun saat ini, setiap hari adalah hari khusus untuk kita memperbaiki dan mengakui segala kesalahan kita di hadapan Allah. Jika kita mengaku, maka Ia akan menyucikan kita karena Ia adalah Allah yang menyucikan.

Minggu, 5 Desember 2010

JEHOVAH SHAMMAH (ALLAH HADIR DI SITU)

Yehezkiel 48:30-35

Pengajaran:

Pada bagian akhir dari Kitab Yehezkiel adalah tentang pembagian tanah untuk suku-suku di bangsa Israel. Hal ini dimulai dalam pasal 47:13-48:35. Semua pembagian tanah sangat adil dan baik. Yang sangat menarik adalah kota yang saat itu ditempati oleh bangsa Israel dinamakan “JEHOVAH SHAMMAH (ALLAH HADIR DI SINI).”

Pelajaran yang bisa kita tarik adalah tentang Kehadiran Allah. Banyak di antara kita yang mempunyai bayak harta benda, rumah yang mewah, pekerjaan yang layak, prestasi yang luar biasa, dll. tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah ada Allah di dalamnya? Apakah Allah ikut terlibat? Apakah Allah senantiasa hadir di dalam rumah kita? Walaupun kita memiliki banyak simbol kekristenan atau bahkan salib terbesar sedang tergantung di dalam rumah.

Kehadiran Allah yang terus-menerus adalah hal yang utama dalam segala hal yang kita miliki. Adalah sesuatu yang sia-sia jika tidak ada Allah di dalam rumah, prestasi, harta benda, dll. Mintalah kehadiran-Nya setiap saat, maka akan ada dampak yang luar biasa akan kita alami.

Saturday, November 20, 2010

Mengapa seringkali kita menjadi orang bodoh?

FOKUS KITA

Yesus membagi orang percaya menjadi dua kategori. Satu dikategorikan sebagai orang bodoh dan satu lagi orang yang bijaksana. Orang bodoh adalah orang yang membangun rumah di atas pasir dan orang bijak digambarkan sebagai orang yang membangun rumah di atas batu (Matius 7:24-27).

Sudah tentu rumah yang dibangun di atas pasir tidak akan bertahan saat banjir melanda. Banjir di dalam Alkitab sering dipakai untuk menggambarkan penghakiman. Ini berarti apa yang dibangun oleh orang bodoh ini tidak akan bertahan saat dihakimi Tuhan.

Siapa orang bodoh ini? Dengan gamblang Yesus memberitahu kita bahwa orang bodoh ini adalah orang yang mendengar perkatanNya, tetapi tidak melakukannya (Matius 7:26).

Tidak ada orang waras yang memilih untuk menjadi orang bodoh. Kta semua ingin menjadi orang bijak yang mendengarkan perkatan Yesus dan melakukannya (Matius 7:24). Namun kita juga harus jujur mengakui bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita tidak melakukan apa yang sudah kita dengar. Dan ini jelas membuat kita masuk ke dalam kategori orang yang dianggap bodoh dan sedang membangun rumah di atas pasir.

Mengapa kita sampai terjerumus ke dalam kategori orang bodoh? Mengapa kita seringkali mendengarkan, tetapi tidak melakukan?

  1. Lupa atau melupakan. Kebanyakan orang percaya mendengarkan Firman lalu melupakannya (Yakobus 1:25). Dan memang benar, tidak mungkin kita dapat melakukan apa yang sudah kita lupakan. Pertanyaannya, mengapa kita sering melupakan apa yang telah kita dengar? Kecenderungan kita untuk lupa atau melupakan menunjukkan seberapa pentingnya perkataan Yesus itu bagi kita. Sulit untuk kita melupakan hal yang penting bagi kita, tetapi memang merupakan suatu hal yang lazim untuk melupakan hal yang kita anggap tidak penting. Jika kita termasuk orang yang sering melupakan apa yang telah kita dengar, ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan itu sebenarnya tidak penting bagi kita. Melupakan berarti mengabaikan. Mengabaikan berarti tidak mempedulikan Firman. Tidak mempedulikan berarti kita tidak menganggap penting Firman Tuhan.

  1. Banyak berbicara. Orang yang melakukan firman Tuhan adalah orang yang cepat mendengar dan lambat berbicara (Yakobus 1:19). Janganlah menjadi orang yang banyak berbicara, tetapi tidak mendengar. Kita diberikan dua telinga dan satu mulut, kita memang direncanakan Tuhan untuk mendengar dua kali lipat daripada kita berbicara. Diamkan hati dan pikiran kita dan dengarkanlah Tuhan. Kita harus mendengar sebelum kita dapat melakukan. Daripada sibuk berbicara, lebih baik mendengarkan (tidak hanya dengan telinga, tetapi juga hati) supaya kita dapat memahami kehendak Tuhan dan melakukannya.

  1. Hati yang kotor. Kita tidak akan dapat mendengarkan Tuhan berbicara dan kita tidak dapat menerima Firman kehidupan saat hati kita kotor dan penuh dengan kejahatan (Yakobus 1:21). Hati kita ibarat tanah yang hendak ditaburi benih, harus dibersihkan dari segala semak duri dan hal-hal yang najis, harus dibajak supaya gembur sebelum ia dapat dengan baik menerima benih firman Tuhan. Firman Tuhan hanya dapat bertumbuh di dalam hati yang bersih.

  1. Penundaan. Firman Tuhan itu seperti kaca yang mencerminkan siapa kita (Yakobus 1:23-24). Di depan cermin kita akan langsung membenahi diri kita, tetapi sayangnya saat firman itu menunjukkan hal yang perlu kita benahi dalam kehidupan kita, seringkali kita memilih untuk menunda-nunda. Masalah penundaan adalah persoalan kritis yang membuat kita gagal melakukan kehendak Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah setelah mendengarkan adalah untuk langsung melakukannya. Penundaan hanya akan membuat kita semakin berat untuk melangkah.

Yesus berkata di Matius 7:24, "setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya adalah orang yang bijaksana". Apa yang dimaksudkan dengan "perkataan-Ku ini?" "Perkataan-Ku ini" secara khusus menunjuk kepada Khotbah di Bukit atau ajaran Yesus yang tercatat di Matius 5, 6 dan 7. Dengan kata lain, orang yang melakukan seluruh ajaran Yesus yang disampaikan di Khotbah di Bukit adalah orang bijaksana yang sedang membangun di atas dasar yang kuat yang akan bertahan buat selama-lamanya.

Orang bijaksana adalah orang yang hidupnya dilandasi oleh ajaran Yesus di Khotbah di Bukit. Kiranya kita ditemukan di antara orang bijaksana di mana kita menjalani kehidupan kita berdasarkan apa yang sudah Yesus sampaikan kepada kita di seluruh Matius 5, 6 dan 7. Janganlah kita ditemukan di antara orang yang akan hidup dalam penyesalan yang kekal karena membangun di atas foundasi pasir dengan tidak hidup sesuai dengan ajaran Yesus di Khotbah di Bukit.

Di Matius 7:21 Yesus juga menegaskan bahwa bukan semua orang yang berseru kepadaNya akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa di surga. Sekali lagi, apa yang menjadi kehendak Bapa adalah seluruh ajaran Yesus yang disampaikan di Khotbah di Bukit di Matius 5, 6 dan 7. (sumber: cahayapengharapan)

Tinta "Ajaib" dan Sebatang Pensil

INSPIRATIONAL STORY


Bertahun-tahun yang lalu, Amerika Serikat dan Uni Soviet terlibat dalam perlombaan untuk menguasai ekspedisi ke luar angkasa (space race).

Ilmuwan dan insinyur dari kedua negara tersebut terus-menerus berada di dalam kompetisi yang sangat ketat untuk menemukan terobosan teknolologi yang akan membuat negara mereka selangkah lebih mau dari negara saingannya.

Salah satu bidang yang membuat pusing para ilmuwan NASA (lembaga antariksa AS) adalah: menemukan tinta yang bisa digunakan di ruang tanpa bobot di dalam pesawat luar angkasa. Puluhan bahkan ratusan ribu dollar dihabiskan untuk menemukan formula tinta "ajaib" tersebut. Ratusan bahkan ribuan jam dihabiskan untuk melakukan riset dan eksperimen.

Anda tahu apa yang dilakukan oleh Uni Soviet? Mereka menulis memakai pensil!

Seringkali, kita sibuk mencari-cari apa yang tidak ada; padahal apa yang kita butuhkan sebenarnya telah tersedia di depan mata.

Banyak orang percaya yang tidak pernah berani melangkah untuk melakukan sesuatu oleh karena mereka terus-menerus merasa kurang, belum dewasa, tidak punya karunia, minim talenta, dan segudang alasan yang lain.

Terlalu banyak orang yang menunggu agar ia lebih dulu "sempurna" sebelum mulai bekerja. Beberapa orang menghabiskan jam-jam doanya untuk meminta karunia-karunia Roh yang adi kodrati (supranatural), karena berpikir bahwa tanpanya ia tidak akan pernah berguna.

Kadang, kita begitu sibuk memikirkan hal-hal yang terlalu besar atau tinggi tentang diri kita. Apalagi, ketika kita mulai membandingkan diri dengan orang lain, yang di mata kita memiliki puluhan kelebihan yang tidak kita miliki.

Kita ingin seperti dia, dan kita berpikir bahwa kita hanya akan berguna kalau kita pun memiliki semua kelebihan itu. Kita lupa untuk menilai diri kita "menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kita masing-masing" (Roma 12:3).

Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30), sang Tuan menunjukkan penghargaan yang persis sama kepada hamba yang memiliki 5 talenta maupun 2 talenta. Ia menghargai mereka bukan berdasar berapa talenta yang mula-mula mereka miliki, namun berdasar apa yang mereka lakukan dengan talenta itu.

Kalau saja hamba dengan 1 talenta itu mau bekerja mengembangkan talentanya, pastilah ia akan mendapat penghargaan yang sama dari sang Tuan.

Kita tidak perlu menunggu lagi. Kita bisa mulai bergerak sekarang, dengan apa yang kita punya, dengan apa yang kita bisa. Keluar dari kotak egoisme, lepas dari belengu rasa rendah diri. Memperhatikan orang lain, melakukan sesuatu; sekalipun sederhana dan kelihatannya tidak berarti apa-apa.

Kita tidak pernah tahu berkat macam apa yang diterima orang lain dari tindakan kita yang paling sederhana. Tapi Tuhan tahu.

Saya meyakini prinsip "siapa mempunyai, ia akan diberi" (Matius 25:29). Kalau kita berani mulai melakukan sesuatu, dengan hati tulus dan nurani yang murni, maka Tuhan yang akan menambahkan kemampuan, talenta, karunia, dan entah apa lagi namanya, untuk makin melengkapi kita.

Dan jangan kaget, kalau kita setia melakukannya, kita akan mendapati bahwa Tuhan mulai mempertajam kepekaan hati kita kepada keadaan orang lain; sampai-sampai kita seolah-olah bisa "meramalkan" kebutuhan orang. Sehingga ketika kita melakukan atau mengatakan sesuatu, sesuatu itu begitu "tepat" memenuhi kebutuhan orang lain.

Jangan menghabiskan waktu untuk menemukan tinta ajaib. Ambillah pensil yang sekarang tergeletak di atas meja.